Dataradio.id| Cipayung

Banjir yang terus menghantui warga Kampung Benda Barat, RT 03/06, Kelurahan Cipayung, Kota Depok, kembali memantik kekecewaan terhadap lambannya penanganan pemerintah. Meski dua alat berat jenis spider dan amfibi diturunkan untuk mengangkat lumpur di Kali Pesanggrahan pada Rabu (20/5/2026), banjir tetap merendam permukiman warga di sekitar Jembatan Jago.

Sedikitnya delapan rumah terdampak banjir. Bahkan, tiga rumah di antaranya menjadi langganan terendam setiap kali hujan turun. Ketinggian air disebut bisa mencapai dada orang dewasa.

Warga menilai pengerukan kali yang dilakukan belum menyentuh akar persoalan. Lumpur dan sampah yang diduga berasal dari longsoran TPA Cipayung disebut terus menyebabkan penyempitan dan pendangkalan aliran Kali Pesanggrahan.

“Meski sudah dikeruk, air tetap masuk ke rumah warga,” ujar Siti Aisyah.

Ia mengaku sudah hampir 7 tahun menghadapi banjir yang terus berulang. Banjir terparah terjadi pada 2020, ketika seluruh rumah warga nyaris tenggelam.

“Sejak saat itu sampai sekarang masih terus kebanjiran,” katanya.

Siti yang tinggal bersama suami dan tiga anak mengaku selalu dihantui rasa takut setiap kali hujan turun. Selain arus air yang deras, banjir juga membawa bau menyengat dari lumpur dan sampah.

Ia juga menceritakan, sebelum tinggal di bantaran Kali Pesanggrahan, dirinya sempat tinggal di dekat TPA Cipayung. Namun, bau sampah dan kondisi lingkungan membuatnya memilih pindah.

“Saya asli orang sini. Dulu tinggal dekat TPA, tapi tidak tahan baunya. Saya punya penyakit maag jadi sering mual. Makanya pindah ke sini,” ujarnya.

Ironisnya, perpindahan itu justru membawa keluarganya hidup dalam ancaman banjir. Menurut Siti, awalnya banjir tidak terlalu parah. Namun, longsoran TPA yang terus terjadi dan tak kunjung ditangani membuat kondisi semakin memburuk.

“Sekarang tidak hujan pun kadang bisa banjir karena kali tersumbat lumpur dan sampah,” katanya.

Ia bahkan menyebut pernah ada sepeda motor hanyut dan baru ditemukan setahun kemudian saat pengerukan lumpur dilakukan oleh petugas.

“Saking banyak lumpurnya,” ucapnya.

Untuk mengurangi dampak banjir, warga terpaksa meninggikan lantai rumah dan membuat tanggul secara swadaya. Namun upaya itu belum mampu menahan derasnya air saat hujan turun dengan intensitas tinggi.

Menurut warga, solusi utama bukan sekadar pengerukan sementara, melainkan penanganan serius terhadap TPA Cipayung yang disebut menjadi sumber masalah.

“Kalau TPA tidak longsor, tidak akan begini. Kalau TPA dirapihkan dan kali dikeruk maksimal, insyaallah aliran lancar lagi dan tidak ada banjir. Penyakitnya ada di TPA, jadi sumber masalahnya yang harus disembuhkan,” katanya.

Warga juga mendesak pemerintah segera menurap area TPA Cipayung agar longsor tidak terus terjadi dan mencemari aliran kali hingga berdampak ke wilayah lain seperti kelurahan Pasir Putih.

Mereka khawatir kerusakan semakin meluas. Bahkan, warga menyinggung kondisi Jembatan Mawar yang disebut sudah hilang akibat terendam dan tertutup material lumpur.

“Jangan sampai Jembatan Jago bernasib sama,” ujar Siti.

Siti mengungkapkan, warga sempat mendapat janji dari Wali Kota Depok saat melakukan kunjungan pasca aksi damai pada 10 Mei 2026. Dalam pertemuan itu, pemerintah disebut akan meninggikan jalan dan membangun ulang Jembatan Jago agar lebih besar dan aman.

“Kami berharap wali kota benar-benar merealisasikan ucapannya, bukan sekadar janji,” pungkasnya.